Nikah Mut’ah Jenis Pernikahan Yang Dilarang Dalam Islam

[OPINI] Nikah Usia Muda Vs. Nikah Usia Matang, Mana yang Lebih Baik?

Pernikahan merupakan salah satu amalan sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah. Dengan menikah, seseorang memulai hidup baru dengan suami atau istri untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, atau warohmah. Selain mengikuti sunnah Nabi, tujuan pernikahan adalah untuk menghindari perselingkuhan dan menciptakan anak sebagai penerus keluarga. Namun, menurut hukum Islam, beberapa jenis pernikahan yang dilarang dalam Islam. Salaah satunya adalah pernikahan mut’ah.

Nikah mut’ah, kadang-kadang disebut sebagai nikah kontrak atau nikah mut’ah, adalah ketika seorang pria menikahi seorang wanita untuk jangka waktu tertentu. Para ulama berpendapat bahwa pernikahan semacam ini diharamkan dalam Islam, haram, dan haram jika sudah terjadi. Secara historis, pernikahan mut’ah diizinkan pada masa awal Islam sebagai sarana penyelesaian keadaan darurat. Dalam karyanya “Ensiklopedia Imam Syafi’i”, DR. Ahmad Nahrawi Abdus Salam menyatakan bahwa pernikahan mu’tah kemudian dilarang, dan larangan tersebut sejak itu menjadi kesepakatan para ulama.

Sejarah Nikah Mut’ah

Pernikahan mut’ah sebelumnya diizinkan tetapi kemudian dilarang sampai akhir. Salamah bin Al Akwa’ berkata dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah saw memberi kami kelonggaran dalam masalah mut’ah bagi wanita selama tiga hari di tahun tertentu kemudian dia melarangnya. Hal tersebut juga di perkuat oleh Abdullah bin Abbas ra mengatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmizy bahwa pernikahan mut’ah diperbolehkan selama tahun-tahun awal syariat. Pada saat itu, jika seseorang mengembara ke suatu negara tidak yakin berapa lama dia akan tinggal, dia menikahi seorang wanita hanya untuk tujuan tinggal di negara itu; istrinya menjaga hartanya dan menjaganya sampai turunnya ayat yang berbunyi: kepada istri dan budaknya.

Pernikahan mut’ah sebelumnya diperbolehkan karena masyarakat Islam masih dalam masa transisi dari masa jahiliyah ke masa Islam pada saat itu. Namun, Rasulullah SAW melarang pernikahan mut’ah pada saat itu. Hal ini juga dibuktikan dalam Fathul Bari, dimana Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa nikah mut’ah mirip dengan nikah kontrak, namun tanpa aturan kebolehan. Jenis pernikahan yang dilarang dalam Islam ini begitu di larang oleh allah. Akibatnya, para ahli dari semua mazhab sepakat bahwa nikah mut’ah adalah haram dan termasuk dalam kategori nikah yang tidak sah. Memang, pelanggar perkawinan disamakan dengan pezina. Umar bin Khattab, sahabat Nabi, menganggap pernikahan mut’ah itu buruk. Selain itu, pelaku diancam dengan rajam, karena pelanggarannya identik dengan zina.

Perubahan Zaman Membuat Beberapa Pernikahan Yang Di Larang Menjadi Legal

Di dunia sekarang ini, nikah mut’ah semakin jelas dikutuk. Sebab, dari sudut pandang rukun, nikah mut’ah dianggap haram karena kurangnya saksi, wali, dan batasan durasi pernikahan, yang semuanya membuat pernikahan itu tidak sah. Bahkan ketika saksi dan wali hadir, tidak jarang pelanggar menjadi penipu. Selain itu, Quraish Shihab mengatakan bahwa pernikahan mut’ah tidak sesuai dengan tujuan pernikahan yang dinyatakan dalam Al-Qur’an. Sebuah pernikahan kemungkinan besar akan bertahan, hidup dan mati, bahkan sampai Hari Penghakiman.

Namun, dia mengatakan bahwa ulama Sunni dan Syiah memiliki pandangan yang berbeda tentang pernikahan mut’ah ini. Ulama Syi’ah menggunakan alasan Umar bin Khattab yang melarang nikah mut’ah untuk melegalkan nikah mut’ah. Sementara ulama Sunni mengutuk pernikahan mut’ah, mereka membuat perbedaan antara itu dan perzinahan. Namun, Quraish Shihab mencatat bahwa sejumlah pemikir Syiah menentang mut’ah dengan alasan bahwa hal itu dapat merugikan perempuan dan menjadi golongan jenis pernikahan yang dilarang dalam Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *